Rabu, 24 Februari 2016

Realita Kehidupan

Suasana yang begitu hangat selalu ku rasa ditengah cinta kasih yang selalu tercurahkan dari kedua malaikatku,yang selalu berusaha membuat anak-anak nya bahagia dalam dekapan mereka.  Canda tawa yang yang selalu terlontar dari bibir indahnya yang mencairkan suasana. Terkadang disaat matahari berada diantara timur dan barat, kami sering menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga hanya untuk menghilangkan sejenak rasa lelah setelah beraktivitas dan yang tidak pernah ketinggalan yaitu secangkir kopi yang selalu ibu siapkan untuk bapak sedangkan ibu, aku, dan adik ditemani sacangkir teh manis dan makanan ringan lainnya sebagai pelengkap. Disaat kebersamaan seperti ini kami sering kali mengobrol sekedar sharing yang sesekali diselipi canda. Semuanya kami ceritakan di ruangan ini, keluarga kami selalu terbuka dalam segala urusan, tidak ada hal sekecil apapun yang kami tutupi.

Aku sangat senang telah dilahirkan ditengah-tengah keluarga yang harmonis seperti ini, dengan orang tua yang selalu bisa mengerti aku. Tapi , kadang diri ini kurang bersyukur dengan apa yang dimilliki. Selalu merasa kurang dengan apa yang ku punya. Ya... mungkin rasa ini manusiawi yang sering kali dialami oleh kebanyakan orang, contohnya saja orang yang sudah punya rumah, masih merasa kurang karena belum punya kendraan , udah beli kendaraan motor, masih kurang juga belum ada mobil, beli mobil, udah punya mobil sekarang mau nya punya jett pribadi biar enak kalau mau jalan-jalan gitu. (hadeh gak ada habisnya yaa keinginan ini :P). Namanya juga manusia, yang tidak pernah puas dengan apa yang udah di milikinya, selalu saja merasa kurang, selalu diselimuti dengan nafsu duniawi yang besar.

Rasa itu juga yang sering kali menghampiri ku, rasa tidak puas dengan apa yang dimiliki. Tapi, untungnya selalu ada malaikat tanpa sayap yang menasihatiku, pada suatu malam di bawah terangnya rembulan dan hembusan angin yang membelai lembut ia datang menghampiri ku yang sedang duduk memandangi langit yang bertabur bintang, dan beliau menyentuh bahu ku dan berkata sedang apa kau sayang? Ehh ibu ( tersentak kaget) enggak lagi ngapa-ngapain kok bu J. Entah mengapa tiba-tiba ibu memberi wejengan malam kepada ku “ anakku sayang sekarang kau sudah besar, ibu harap kamu pandai dalam melihat, lihat lah kebawah untuk urusan materi dan lihatlah ke atas dalam urusan pengetahuan dan akhirat” tutur ibu. Seoalah-olah ada kabel yang mengkoneksi pikiran aku dan pikran ibu, aku hanya tertunduk diam. Ibu melanjutkan pembicaraannya,”karena tanpa kita sadari masih banyak orang yang secara finansial berada di bawah kita, dan masih banyak juga orang yang secara pengetahuan dan amalan ibadahnya diatas kita. Apabila kau bisa menerapkan itu sebagai tolak ukur dalam hidup mu maka insya allah hidupmu akan sukses dunia hingga surga akhirat. Ibu lalu memeluk tubuhku dengan sangat erat dan seketika itu aku merasa llidahku begitu kelu untuk mengeluarkan kata-kata. Aku baru sadar bahwa aku mempunya ibu yang begitu luar biasa cerdas, tidak hanya mengurusku saja tetapi sekaligus menjadi motivator dalam hidupku. Malam itu menjadi malam renungan bagiku.

Hingga suatu ketika aku dan teman-teman mendapatkan tugas untuk sosialisasi ke sekolah-sekolah, yang kebetulan di sekolah yang kami kunjungi tersebut sarana dan prasarananya masih kurang, sehingga kami tidak bisa menggunakan aula karena kondisi yang tidak memungkinkan, dan mengharuskan kami masuk dari kelas ke kelas. Disana aku menemukan seorang anak laki-laki yang berada  di salah satu kelas yang aku masuki, pada saat itu setelah selesai sosialisasi aku memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan cita-cita dan harapan mereka setelah lulus dari SMA kelak di hadapan teman-temannya di depan kelas. Dengan langkah gagah berani salah seorang anak laki-laki maju kedepan dan mengutarakan keinginannya, ia sangat ingin melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan, tetapi setiap kali ia mengutarakan niat nya kepada orang tuanya, selalu saja di patahkan dengan alasan keterbatasan ekonomi yang mereka miliki.” untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup, belum lagi biaya untuk adik-adik yang mau bersekolah juga” tuturnya. Orang tua ku begitu berat untuk memenuhi keinginan ku itu, mereka justru menyuruhku bekerja saja setelah lulus SMA. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan siapapun atas semua ini,karena ekonomilah yang menjadi pembentur semua langkah, tapi aku tetep optmis dengan keinginan ku untuk berkuliah suatu saat nanti” jelasnya

Jlepp seketika itu juga hatiku terenyuh mendengar ceritanya, terbayang semua nasihat ibu, pada saat itu aku benar-benar merasa kerkena tamparan pedas yang membuat diriku tersadar bahwa masih banyak orang yang nasib nya kurang beruntung tetapi mereka mempunyai semangat dan keyakinan yang begitu besar untuk menggapai asa. Dengan melihat langsung realita kehidupan yang ada di tengah masyarakat ini membuat semangat dan tekad ku kembali membara bak api yang menyala-nyala untuk mencapai semua cita-citaku demi membahagiakan orang-orang terdekatku.

Hmm... terkadang memang kita harus keluar dari kehidupan kita dan melihat kehidupan orang-orang disekitar kita, agar kita lebih bisa menghargai hidup dan mengerti apa artinya perjuangan.
Ibu bapak maafkan aku yang terkadang selalu menyusahkan kalian, yang selalu mengeluh,yang sering kali tidak mematuhi perkataan kalian. Untuk saat ini aku belum bisa kasih apa-apa untuk kalian, tapi aku janji suatu saat nanti aku pasti akan membahgiakan kalian, meskipun apa yang aku berikan kepada kalian kelak tidak akan pernah bisa membalas semua jasa, kerja keras, dan perjuangan kalian selama ini. Tetapi setidaknya aku ingin mencoba memberikan hal yang berkesan dalam hidup kalian. Doakan anakmu ini pak, bu agar segera sukses. I LOVE YOU :* {}

                                                                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar