Suasana yang begitu hangat
selalu ku rasa ditengah cinta kasih yang selalu tercurahkan dari kedua
malaikatku,yang selalu berusaha membuat anak-anak nya bahagia dalam dekapan
mereka. Canda tawa yang yang selalu
terlontar dari bibir indahnya yang mencairkan suasana. Terkadang disaat
matahari berada diantara timur dan barat, kami sering menghabiskan waktu
bersama di ruang keluarga hanya untuk menghilangkan sejenak rasa lelah setelah
beraktivitas dan yang tidak pernah ketinggalan yaitu secangkir kopi yang selalu
ibu siapkan untuk bapak sedangkan ibu, aku, dan adik ditemani sacangkir teh
manis dan makanan ringan lainnya sebagai pelengkap. Disaat kebersamaan seperti
ini kami sering kali mengobrol sekedar sharing yang sesekali diselipi canda.
Semuanya kami ceritakan di ruangan ini, keluarga kami selalu terbuka dalam
segala urusan, tidak ada hal sekecil apapun yang kami tutupi.
Aku sangat senang telah
dilahirkan ditengah-tengah keluarga yang harmonis seperti ini, dengan orang tua
yang selalu bisa mengerti aku. Tapi , kadang diri ini kurang bersyukur dengan
apa yang dimilliki. Selalu merasa kurang dengan apa yang ku punya. Ya...
mungkin rasa ini manusiawi yang sering kali dialami oleh kebanyakan orang,
contohnya saja orang yang sudah punya rumah, masih merasa kurang karena belum
punya kendraan , udah beli kendaraan motor, masih kurang juga belum ada mobil,
beli mobil, udah punya mobil sekarang mau nya punya jett pribadi biar enak
kalau mau jalan-jalan gitu. (hadeh gak ada habisnya yaa keinginan ini :P).
Namanya juga manusia, yang tidak pernah puas dengan apa yang udah di milikinya,
selalu saja merasa kurang, selalu diselimuti dengan nafsu duniawi yang besar.
Rasa itu juga yang sering kali menghampiri ku,
rasa tidak puas dengan apa yang dimiliki. Tapi, untungnya selalu ada malaikat
tanpa sayap yang menasihatiku, pada suatu malam di bawah terangnya rembulan dan
hembusan angin yang membelai lembut ia datang menghampiri ku yang sedang duduk
memandangi langit yang bertabur bintang, dan beliau menyentuh bahu ku dan
berkata sedang apa kau sayang? Ehh ibu ( tersentak kaget) enggak lagi
ngapa-ngapain kok bu J. Entah
mengapa tiba-tiba ibu memberi wejengan malam kepada ku “ anakku sayang sekarang
kau sudah besar, ibu harap kamu pandai dalam melihat, lihat lah kebawah untuk
urusan materi dan lihatlah ke atas dalam urusan pengetahuan dan akhirat” tutur
ibu. Seoalah-olah ada kabel yang mengkoneksi pikiran aku dan pikran ibu, aku
hanya tertunduk diam. Ibu melanjutkan pembicaraannya,”karena tanpa kita sadari
masih banyak orang yang secara finansial berada di bawah kita, dan masih banyak
juga orang yang secara pengetahuan dan amalan ibadahnya diatas kita. Apabila
kau bisa menerapkan itu sebagai tolak ukur dalam hidup mu maka insya allah
hidupmu akan sukses dunia hingga surga akhirat. Ibu lalu memeluk tubuhku dengan
sangat erat dan seketika itu aku merasa llidahku begitu kelu untuk mengeluarkan
kata-kata. Aku baru sadar bahwa aku mempunya ibu yang begitu luar biasa cerdas,
tidak hanya mengurusku saja tetapi sekaligus menjadi motivator dalam hidupku.
Malam itu menjadi malam renungan bagiku.
Hingga suatu ketika aku dan
teman-teman mendapatkan tugas untuk sosialisasi ke sekolah-sekolah, yang
kebetulan di sekolah yang kami kunjungi tersebut sarana dan prasarananya masih
kurang, sehingga kami tidak bisa menggunakan aula karena kondisi yang tidak
memungkinkan, dan mengharuskan kami masuk dari kelas ke kelas. Disana aku
menemukan seorang anak laki-laki yang berada
di salah satu kelas yang aku masuki, pada saat itu setelah selesai
sosialisasi aku memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan
cita-cita dan harapan mereka setelah lulus dari SMA kelak di hadapan
teman-temannya di depan kelas. Dengan langkah gagah berani salah seorang anak
laki-laki maju kedepan dan mengutarakan keinginannya, ia sangat ingin
melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan, tetapi setiap kali ia
mengutarakan niat nya kepada orang tuanya, selalu saja di patahkan dengan
alasan keterbatasan ekonomi yang mereka miliki.” untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari saja tidak cukup, belum lagi biaya untuk adik-adik yang mau
bersekolah juga” tuturnya. Orang tua ku begitu berat untuk memenuhi keinginan
ku itu, mereka justru menyuruhku bekerja saja setelah lulus SMA. Tapi aku juga
tidak bisa menyalahkan siapapun atas semua ini,karena ekonomilah yang menjadi
pembentur semua langkah, tapi aku tetep optmis dengan keinginan ku untuk
berkuliah suatu saat nanti” jelasnya
Jlepp seketika itu juga hatiku
terenyuh mendengar ceritanya, terbayang semua nasihat ibu, pada saat itu aku
benar-benar merasa kerkena tamparan pedas yang membuat diriku tersadar bahwa
masih banyak orang yang nasib nya kurang beruntung tetapi mereka mempunyai
semangat dan keyakinan yang begitu besar untuk menggapai asa. Dengan melihat
langsung realita kehidupan yang ada di tengah masyarakat ini membuat semangat
dan tekad ku kembali membara bak api yang menyala-nyala untuk mencapai semua
cita-citaku demi membahagiakan orang-orang terdekatku.
Hmm... terkadang memang kita
harus keluar dari kehidupan kita dan melihat kehidupan orang-orang disekitar
kita, agar kita lebih bisa menghargai hidup dan mengerti apa artinya
perjuangan.
Ibu bapak maafkan aku yang
terkadang selalu menyusahkan kalian, yang selalu mengeluh,yang sering kali
tidak mematuhi perkataan kalian. Untuk saat ini aku belum bisa kasih apa-apa
untuk kalian, tapi aku janji suatu saat nanti aku pasti akan membahgiakan
kalian, meskipun apa yang aku berikan kepada kalian kelak tidak akan pernah
bisa membalas semua jasa, kerja keras, dan perjuangan kalian selama ini. Tetapi
setidaknya aku ingin mencoba memberikan hal yang berkesan dalam hidup kalian.
Doakan anakmu ini pak, bu agar segera sukses. I LOVE YOU :* {}
Tidak ada komentar:
Posting Komentar